RSS

Menjadi 100% Katolik, 100% Indonesia

08 Jun

Mendengar kalimat di atas, pikiran apa yang akan terlintas? Hal yang dimungkinkan barangkali tentang ukuran 100% tersebut yang secara kunatitas merupakan angka yang cukup, atau bahkan sangat besar. Angka ini merujuk pada arti sebuah totalitas, sebuah komitmen yang dicoba untuk dikuantifikasi agar lebih mudah untuk diomengerti. Lalu, totalitas seperti apa yang diperlukan?

Membicarakan tema tulisan ini, tentunya kita diingatkan oleh pernyataan Albertus Sugiyopranoto, seorang uskup pertama pribumi Indonesia, seorang siswa dari Romo Frans Van Lith salah seorang pendiri foundasi kekatolikan di tanah Jawa pada umumnya dan Indonesia pada umumnya. Bila kita kaji, bukanlah hal ini berkaitan dengan garam dan terang kita? Menjadi manusia yangh memiliki sifat seperti garam, yaitu dapat larut ke dalam substansi yang lebih besar, namun tetap menjaga sifat garam itu sendiri dalam setiap bagian substansi tersebut. Menjadi terang atau cahaya berarti dapat menjadi penuntun di saat gelap, atau seseorang bisa diandalkan dalam penentuan arah.

Kembali ke komitmen 100% katolik 100% indonesia bukanlah hal sederhana tentang prioritas waktu karena 100% itu menyatakan keseluruhan populasi dan bila dijumlahkan keduanya adalah 200% akan menjadi tidak berarti karena 100% adalah perbandingan yang menyatakan keseluruhan. Lalu seperti apakah komitmen itu?  Komitmen bisa diartilkan sebagai pemusatan perhatian dan kontribusi taynpa terhalang oleh kondisi waktu. Artinya dalm kesempatan waktu yang dimiliki, walaupun terbatas, tetap bisa memberikan kontribusi secara maksimal.

Menjadi nasionalis katolik atau seorang katolik yang tetap berpegang pada identitas nasional memang bukanlah hal yang mudah dan sederhana. Seringkali terbatasnya sudut pandang atau sudut pandang yang sempit menjadi belenggu akan terciptanya katolik indonesia. Tidak dipungkiri dengan masuk ke dalam zona nyaman, kita sulit untuk keluar dan menjalin hubungan dengan komunitas seiman maupun lintas iman. Hal ini disayangkan karena kita tidak menjadi garam dan terang bagi lingkungan kita.

Kata-kata “100% Katolik 100% Indonesia” merupakan salah satu slogan yang sering digunakan oleh Gereja Katolik Indonesia, merenungkan bagaimana menyikapi iman sebagai umat Katolik tanpa mengabaikan identitas diri sebagai Bangsa Indonesia, juga sebaliknya.

Kitapun sebagai mahluk yang hidup berdampingan, perlu memelihara tatanan kehidupan bermasyarakat dalam berbagai aturan hukum. Tapi perlu kepekaan dan hati nurani, yang menyadarkan kita untuk tidak menawar-nawar, memilih aturan yang berlaku yang menguntungkan kita sendiri. Kalau masih bisa diatur gak usah bayar pajak. Kalau kepepet, gak perlu lakukan aturan agama. Hukum agama dan hukum manusia harusnya berjalan berdampingan; seperti koin mata uang yang dipegang Yesus. Koin saat itu memang ada tulisan lambang kaisar, tapi disisi sebaliknya ada tulisan tentang sang Pencipta dalam tradisi Rum. Bersatu tapi tidak menempel, terpisah tapi tidak terlepas satu sama lain.

Semua umat katolik Indonesia hendaknya mencapai kematangan dalam kehidupan iman, harapan dan cinta kasih. Dan bagaimana kita mampu mengolah keutamaan ilahi itu menjadi pelaku kemanusiaan dalam hidup berbangsa dan bernegara secara benar. Demikian maksud ungkapan tersebut, bahwa umat Katolik di Indonesia ini menyandang kewarga-negaraan Indonesia 100% dan kekatolikan 100%.

Alm Uskup Oscar Romero dengan berani menegur para tentara yang menyerang rakyat sipil El Salvador dan memperlakukan mereka dengan semena-mena: “Saudaraku, Kalian adalah satu keluarga, dan engkau membunuh saudaramu sendiri. Tak satupun tentara harus tunduk pada perintah atasan yang bertentangan dengan kehendak Allah.” Maka kitapun tidak bisa juga memisahkan dan mengacaukan antara keduanya, melakukan apa yang menjadi kewajiban kita sebagai warga bangsa sama pentingnya dengan melakukan kewajiban kita kepada Tuhan. Hukum yang dibuat manusia hendaknya tidak bertentangan dengan hukum Allah. God knows best and never make any mistake. Kalau hal ini dilanggar, sudah dipastikan chaos yang akan terjadi.

Maka kita mempunyai tanggungjawab dan kewajiban untuk membawa bangsa Indonesia menghayati nilai“bonum commune”, “non violent“, pro rakyat miskin, damai, makmur dan sejahtera. Kita sebagai umat Katolik tidak boleh duduk santai dan acuh tak acuh, bahkan melarikan diri dari permasalahan jalannya ketatanegaraan yang tidak karuwan dan yang mengakibatkan masyarakat kebanyakan mendertia baik secara fisik, psikis maupun rohani. Semoga..(ard)

 

Tentang lorenzoardi

I'm interesting about everything about peace n love
1 Comment

Posted by pada 8 Juni 2010 in The Catholic

 

One Response to Menjadi 100% Katolik, 100% Indonesia

  1. aeemy

    15 Juni 2010 at 6:53 am

    Baguz, sebagai teman aku hanya bisa mengatakan, aku medukung apapun keinginanmu, selama itu positif 4 you.

    kalo aku?? aku hanya ingin menjadi 100% amini setyaningsih, tapi itu saja sepertinya sgt sulit. Aku sedang mencobanya.

    And if you can be 200%, itu hebat

     

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.